Bagaimana Kedudukan Hadits Mengadzani Bayi yang Baru Lahir?

Tulisan kali ini saya akan mengumpulkan tulisan-tulisan tentang hadits-hadits seputar mengadzani bayi yang baru lahir. Tak usah panjang lebar, langsung saja kita bahas.

Hadits Pertama

Hadits Abu Rafi’ Maula Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.
رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ
“Saya melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan bin ‘Ali -seperti azan shalat- tatkala beliau dilahirkan oleh Fathimah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (6/391-392), Ath-Thoyalisy (970), Abu Daud (5105), At-Tirmidzy (1514), Al-Baihaqy (9/305) dan dalam Asy-Syu’ab (8617, 8618), Ath-Thobrony (931, 2578) dan dalam Ad-Du’a` (2/944), Al-Hakim (3/179), Al-Bazzar (9/325), Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (11/273), dan Ar-Ruyany dalam Al-Musnad (1/455). Semuanya dari jalan Sufyan Ats-Tsaury dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari Abi Rafi’ -radhiyallahu ‘anhu-.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thobrany (926, 2579) tapi dari jalan Hammad bin Syu’aib dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dari ‘Ali ibnul Husain dari Abi Rafi’ dengan lafadz:

أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رضي الله عنهما حِيْنَ وُلِدَا وَأَمَرَ بِهِ

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan dan Al-Husain -radhiyallahu ‘anhuma- tatkala keduanya lahir, dan beliau memerintahkan hal tersebut”.

Semuanya dari jalan Sufyan Ats Tsauri dari Ashim bin Ubaidillah dari Ubaidillah bin Abi Rofi’ dari ayahnya. Dalam sanad ini terdapat ‘Ashim bin Ubaidillah, ialemah. Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata, “Munkar haditsnya.”. Ad Daroquthni berkata, “Yutrok (ditinggalkan haditsnya).”  Sementara itu Ath Thobroni meriwayatkan dalam Al Kabiir (926, 2579) dari jalan Hammad bin Syu’aib dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin Al Husain dengan tambahan, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan ditelinga Al Hasan dan Al Husain…di akhirnya dikatakan, “dan beliau memerintahkannya.”. Dan Hammad bin Syu’aib sangat lemah, selain itu ia diselisihi oleh Sufyan Ats Tsauri dalam riwayat lalu sehingga riwayatnya munkar secara sanad dan matan.

Tentang Ashim bin Ubaidillah Imam Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata, “Mungkar haditsnya dan goncang haditsnya”. Imam Ahmad berkata dari Sufyan ibnu ‘Uyainah (beliau) berkata, “Saya melihat para masyaikh (guru-guru) menjauhi hadits ‘Ashim bin ‘Ubaidillah”. ‘Ali ibnul Madiny berkata, “Saya melihat ‘Abdurrahman bin Mahdy mengingkari dengan sangat keras hadits-hadits ‘Ashim bin ‘Ubaidillah”. Dan hadits ini adalah salah satu hadits yang diingkari atas ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, sebagaimana dalam Mizanul I’tidal (4/8). Lihat juga Al-Jarh wat Ta’dil (6/347) karya Ibnu Abi Hatim dan Al-Kamil (5/225).

Hadits ini dha’ifun jiddan.

Hadits kedua Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍ يَوْمَ وُلِدَ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan. Beliau mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya”.

Al Baihaqi menilai hadits ini lemah dalam Syu’abul Iman. Perawinya dari Muhammad bin Yunus dari Al hasan bin Amru bin Saif As Sadusi mengabarkan kepada kami Al Qosim bin Muthoyyab dari Manshur bin Shofiyyah dari Abu ma’bad dari Ibnu Abbas [Syu’abul iman (6/8620)]

Imam Adz-Dzahaby berkata -memberikan biografi bagi Al-Hasan bin ‘Amr bin Saif di atas- dalam Al-Mizan (2/267), “Dia dianggap pendusta oleh Ibnu Ma’in, Imam Al-Bukhary berkata, “Dia adalah pendusta””.

Hadits ketiga dari Al Husain bin Ali radhiyallahu’anhuma,

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ وُلِدَ لَهُ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى, لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

“Barangsiapa yang dikaruniai seorang anak, lalu dia mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya, maka Ummu Shibyan (jin yang mengganggu anak kecil) tidak akan membahayakan dirinya”.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Asy-Syu’ab (8619), Abu Ya’la (678), dan Ibnu As-Sunny dalam ‘Amalul Yaum (623) dari jalan Yahya ibnul ‘Ala` Ar-Rozy dari Marwan bin Salim dari Tholhah bin ‘Abdillah dari Al-Husain bin ‘Ali.

Hadits ini bisa dihukumi sebagai hadits yang palsu karena adanya dua orang pendusta di dalamnya:

1. Yahya Ibnul ‘Ala`. Imam Al-Bukhary, An-Nasa`i, dan Ad-Daraquthny berkata, “Dia ditinggalkan (arab: matra ditinggalkan (arab: matruk)”. Imam Ahmad berkata, “Dia adalah pendusta, sering membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Mizan (7/206-207) karya Adz-Dzahaby dan Al-Kamil (7/198) karya Ibnu ‘Ady, dan mereka berdua menyebutkan hadits ini dalam jejeran hadits-hadits yang diingkari atas Yahya ibnul ‘Ala`.

2. Marwan bin Salim Al-Jazary. An-Nasa`i berkata, “Matrukul hadits”, Imam Ahmad, Al-Bukhary, dan selainnya berkata, “Mungkarul hadits”, dan Abu ‘Arubah Al-Harrony berkata, “Dia sering membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Mizan (6/397-399)

Hadits keempat dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا حِيْنَ وُلِدَا

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan dan Al-Husain -radhiyallahu ‘anhuma- tatkala mereka berdua dilahirkan”.

Diriwayatkan oleh Imam Tammam Ar-Rozy dalam Al-Fawa`id (1/147/333), dan di dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama Al-Qosim bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Hafsh Al-’Umary. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Tidak ada apa-apanya, dia sering berdusta dan membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Kasyful Hatsits (1/210)

Hadits kelima, Ummu Fadhil binti Al Harits Al Hilaliyah radhiyallahu’anha

Dalam hadits yang agak panjang, beliau bercerita bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda kepadanya ketika beliau sedang hamil:

فَإِذَا وَضَعْتِيْهِ فَأْتِنِي بِهِ. قَالَتْ: فَلَمَّا وَضَعْتُهُ, أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

“Jika kamu telah melahirkan maka bawalah bayimu kepadaku”. Dia berkata, “Maka ketika saya telah melahirkan, saya membawanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka beliau mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya …”.

Al-Haitsmy berkata dalam Al-Majma’ (5/187), “Diriwayatkan oleh Ath-Thobrany dalam Al-Ausath (Al-Mu’jamul Ausath (9/102/9250)), dan di dalam sanadnya ada Ahmad bin Rosyid Al-Hilaly. Dia tertuduh telah memalsukan hadits ini”.

Hadits keenam,

Kutipan perkataan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam kitab “Silsilahhadits-hadist dhaif dan maudhu”, hadits no 321.

Hadist no. 321: “Barang siapa dianugrahi anak kemudian ia azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin.”

Hadits ini maudhu’ (palsu). Ibnu Sunni meriwayatkannya dalam kitab Amalul Yaumi wal-Lailati halaman 200 dan juga oleh Ibnu Asakir II/182, dengan sanad dari Abu Ya’la bin Ala ar-Razi, dari Maryam bin Salim, dari Talhah bin Ubaidillah al-Uqaili, dari Hussain bin Ali r.a.

Menurut saya, sanad tersebut maudhu’ sebab Yahya bin Ala dan Marwan bin Salim dikenal sebagai pemalsu hadits.

Di samping itu, dalam periwayatan hadits di atas ada semacam unsur meremehkan atau menggampangkan masalah. Hal itu diutarakan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawa’id IV/59, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan dalam sanadnya terdapat Marwan bin Sulaiman al-Ghiffari yang oleh para muhadditsin riwayatnya ditinggalkan atau tidak diterima.

Al-Manawi, pensyarah kitab al-Jami’us-Shaghir berkata,”Hadits ini dalam sanadnya terdapat Yahya bin Ala al-Bajali ar-Razi.” Adz-Dzahabi dalam kitab adh-Dhuafa’ wal-Matrukin berkata,”Ia pendusta dan pemalsu.” Itulah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad.

Menurut saya, kepalsuan hadits di atas tidak banyak diketahui ulama. Buktinya banyak ulama kondang yang mengutarakan hadits di atas tanpa menyebutkan kemaudhu’an dan kedha’ifannya. Hal ini terutama dilakukan oleh ulama penulis atau pembuat kitab2 wirid atau kitab2 fadha’il. Misalnya Imam Nawawi mengungkapkan hadits tersebut dengan perawi Ibnu Sunni namun tanpa memberikan isyarat atau komentar akan kedhaifan dan kemaudhu’annya. Begitu pula dengan pensyarahnya yakni Ibnu Ala. Ia pun tidak menyinggung tentang sanadnya sama sekali.

Setelah itu datanglah ulama generasi berikutnya yakni Ibnu Taimiyah yang dapat dilihat dalam kitab al-Kalimuth Thayyib yang diikuti oleh muridnya Ibnu Qayyim yang diutarakan dalam kitab al-Wabilush-Shayyib. Namun keduanya menyinggung seraya berkata bahwa dalam sanadnya terdapat kedha’ifan.

Setelah keduanya, datanglah generasi ulama berikutnya atau bahkan semasa dengan keduanya, tetapi tidak menyinggung atau bahkan diam seribu bahasa dalam mengomentari sanad hadits tersebut.

Pada prinsipnya, sekalipun keduanya (Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim) telah terbebas dari aib mendiamkan hadits atau riwayat dha’if, namun tetap tidak bebas dari pengungkapan kedha’ifan suatu hadits. Maksudnya, bila mengetahui kedha’ifan hadits tadi mengapa mereka masih mengutarakannya? itu berarti hanya merupakan pernyataan kedha’ifan hadits tersebut dan bukannya menunjukkan akan kemaudhu’annya. Bila tidak demikian, maka sudah sepantasnya kedua imam yang agung itu tidak mengutarakan hadits tersebut diatas. inilah yang pasti akan dipahami oleh orang2 yang meneliti dan mau menelaah kitab atau karya tulis kedua imam tadi.

Yang membuat saya khawatir ialah para ulama generasi sesudah beliau menjadi terkecoh hingga dengan lantang berkata,” Tidak apa-apa, karena hadits dha’if pun dapat dipakai untuk mengamalkan fadha’ilul-a’mal.”

Yang terjadi kemudian, bahkan hadits itu dijadikan penguat hadits dha’if lainnya dengan meremehkan syarat mutlak yang harus ada yaitu hendaknya hadits tersebut tidak terlalu dha’if derajatnya. Sebagi bukti ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad dha’if dari Abi Rafi’ yang berkata, “Aku telah melihat Rasulallah mengumandangkan azan pada telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh Fatimah binti Muhammad saw.”

Imam Tirmidzi berkata, “hadits ini sahih dan hendaknya diamalkan dengan dasar hadits tersebut.”

Kemudian pensyarahnya yakni al-Mubar Kafuri setelah menjelaskan kedha’ifan sanadnya dengan dasar pernyataan para ulama, berkata, “Bila ditanya,’Bagaimana mungkin dapat diamalkan sedangkan hadits itu dha’if, maka jawabannya ialah, ‘Memang benar hadits tersebut dha’if, akan tetapi menjadi kuat dengan adanya riwayat lain yaitu hadits dari Husain bin Ali ra. yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Maushili dan Ibnus Sunni.’ ”

Coba anda perhatikan! Bagaimana mungkin hadits menjadi kuat atau dapat dikuatkan dengan adanya hadits maudhu’? Dari mana datangnya kaidah tersebut? Sungguh yang demikian itu tidak ada kamusnya dalam sejarah para muhadditsin pada masa lalu hingga hari kiamat nanti.

Menurut saya, yang demikian itu dapat terjadi tidak lain karena tidak mengenal kemaudhu’an hadits Husain bin Ali diatas dan juga terkecoh oleh komentar atas termuatnya riwayat tersebut dalam karya tulis ulama terkenal atau ulama yang dianggap menjadi panutan.

Memang benar untuk menguatkan hadits Abi Rafi’ yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi itu adalah dengan adanya riwayat atau hadits Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu yaitu, “Sesungguhnya Rasulallah telah mengumandangkan azan pada telinga Hasan bin Ali ketika lahir dan mengumandangkan iqamah pada telinga kirinya (Hadits tersebut telah dikeluarkan oleh Baihaqi dalam kitab Syi’b Iman berbarengan dengan hadits Hasan bin Ali.) Kemudian Baihaqi berkata, “kedua hadits tersebut dalam sanadnya terdapat kedha’ifan .”

Menurut saya, pernyataan Baihaqi tersebut telah diutarakan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab at-Tuhfah halaman 16. Namun, tampaknya sanad hadits ini lebih baik ketimbang sanad hadits Hasan bin Ali yang dapat dijadikan kesaksian atau penguat bagi hadits Rafi’ tadi. Bila demikian masalahnya, maka riwayat inilah sebagai penguat adanya azan pada telinga sang bayi saat dilahirkan seperti yang tercantum dalam hadits Rafi’ riwayat Imam Tirmidzi tadi. Adapun mengenai pengumandangan iqamah pada telinga kiri adalah riwayat yang gharib (asing). Wallahu a’lam.

selesai kutipan

Kesimpulan bahwa hadits mengadzani bayi, baik dengan iqomat ataupun tidak adalah hadits yang dha’if. Tidak ada satupun yang shahih. Maka dari itu, tidak selayaknya kita menggunakan hadits yang tidak shahih untuk sebagai dasar beribadah. Bahkan kebanyakan riwayat haditsnya palsu.

Wallahua’lam bishawab.

sumber rujukan:

1. http://kaahil.wordpress.com/2009/10/17/hukum-adzan-dan-qomat-pada-bayi-baru-lahir/#more-1835

2. http://cintasunnah.com/hukum-adzan-di-telinga-bayi/

3. http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/derajat-hadist-mengadzani-bayi-baru.html

15 thoughts on “Bagaimana Kedudukan Hadits Mengadzani Bayi yang Baru Lahir?

  1. Gk masuk akal,,,,, perbuatan baik adzan dan iqamat ditelinga bayi yg baru lahir, masih dianggap ngga layak !

    • Layak atau tidak sebuah ibadah itu dilihat shahih atau tidaknya sebuah dalil. Sholat itu baik, tapi kalau sholat subuh 3 raka’at apa iya bisa dibilang sholatnya baik?

  2. Sholat subuh yg baik dan wajib adalah 2 raka’at,,,, gk akan ad shlat shubuh jd 3 rakaat,,,,, inilah letak keanehan ny, apa dijawab ap

    • Na’am, tidak baik adalah karena tidak sesuai dengan dalil dan nash yang shahih.
      Selama itu tidak ada nash yang shahih tidak bisa disebut ibadah.

      • Maap, sy rasa setiap umat Muhammad yg lurus tidak akan NGAYAL mengadzan dan mengiqamat kan bayi dikategorikan sebagai perbuatan tidak layak,,,,,,, wasalam

        • Semuanya kembali kepada dalil yang shahih. Soal NGAYAL atau tidak kembali dari bagaimana Anda memahami sebuah nash. Kalau memang tidak ada dalil yang shahih yang bisa dijadikan sandaran, apabisa disebut sebagai ibadah?

          Kalau rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak melakukannya, tidak menyetujuinya, tidak mencontohkannya, tidak menganjurkannya apakah kita yang tidak punya kehendak membuat syari’at NGAYAL bisa membuat syari’at sendiri?

        • Apakah dianggap para ulama hadits itu dianggap umat yang tidak lurus? Lalu kalau patokannya bukan hadits yang shahih, apa bisa dianggap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam yang lurus??

      • Admin Lebih ganteng kali ya kalau raut wajahnya gak di tutup sorban,..dan lebih hebat kalau jalan da’wahnya lebih terang terangan,jadi kelihatan siapa siapa nya..heee cuman masukan..trims.ma’af ya ..

  3. ini adminnya ko ga jelas ya mukanya?gimana mau yakin jika mukanya aja ga jelas!
    hayo,,jangan jadi pengecut dalam urusan agama,bisa2 anda yang dipertanyakan nanti…memang sudah berapa banyak hadist yang admin hafal berikut sanad keguruannya?
    klo cuma tau dari membaca mah belum jago namanya…he,he,he…maaf ya cuma nerusin siKAsep

    • so what?
      Saya tak pernah menuliskan bahwa saya ini orang yang ahli. Begitu juga Anda bukan? Emang sebuah kewajiban dan HARUS menampilkan wajah?
      Saya cuma menuliskan ulang tulisan-tulisan para ulama. Ndak ada yang baru, dan itu bukan dari saya.
      So kalau anda bilang itu murni dari saya anda salah besar.

  4. berarti kita semua yg belum yakin benar akan “kebenaran” artikel ini boleh mengabaikannya, kita jadikan kabar saya. Apalagi saya yg g fahal ilmu hadist pun bilang ABSTAIN. oce … :-)

    • Itulah gunanya akal, digunakan untuk berpikir. Kalau memang Anda belum yakin, maka cara yang tepat untuk meyakinkan adalah dengan merujuk kembali kepada kitab-kitab hadits dan memeriksa perawi-perawinya. Inilah orang yang memang menggunakan akalnya.

      Bukan sekedar bilang ABSTAIN, sehingga seolah-olah ia menyepelekan hal ini dan merasa paling pintar.

  5. Gak usah pake emosi gan gak perlu saling mencerca,kita ini saudara,,,yg belum yakin silahkan mencari dan mempelajari lagi, yg sudah yakin silahkan mengamalkan, tapi ingat rasulullah adalah sebaik2nya contoh

  6. Lucu, dah jelas kalo hadits itu lemah & palsu, berarti rasulullah ga pernah mengajarkannya. Kok tetep ngotot itu salah? Yg bilang hadits-nya lemah & palsu itu ulama2 yg sudah mumpuni. Ulama itu pewaris nabi. Kalo bukan ulama yg diikuti, kamu mau ikut siapa? Ikut otakmu sendiri? Cara berpikirmu sendiri? HARAM, karena ada larangan menafsirkan hadits bagi yg BELUM MAMPU menafsirkan hadist (termasuk saya). Makanya, yg belum mampu menafsirkan hadits, harus ikut apa kata ulama. Coba sekarang saya tanya, emang ada ulama/ustad yg bilang hadits mengazankan bayi yg baru lahir itu hadits shohih? Ga ada….
    Berbuat baik itu ada batasnya (maksudnya boleh atau tidaknya, ada aturan/dalilnya). Misal, ikut bantu bangun patung dewa buddha, emang boleh? Shalat ghaib untuk mendoakan orang kafir yg meninggal, emang boleh? Judulnya emang “bantu” & “shalat”, tapi boleh utk yg spt itu???

Leave a Reply