Apakah Hukum Qurban Kalengan?

Pembahasan saya kali ini adalah Qurban Kalengan. Apa itu Qurban Kalengan? Qurban kalengan, yaitu daging kurban yang dimasukkan ke dalam kaleng, ibaratnya dijadikan daging kalengan, seperti kornet yang mana lebih tahan lama, untuk didistribusikan ke daerah-daerah yang kekurangan pangan. Sebelum membahas apa hukumnya, maka hendaknya kita lihat dulu hukum dari menyimpan daging kurban lebih dari 3 hari. 3 Hari yang dimaksud adalah tgl 11, 12, 13 Dzulhijjah, yaitu pada hari tasyrik.

Hadits pertama:

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Al Aswad bin Qais saya mendengar Jundab bin Sufyan Al Bajali radhiyallahu’anhuma berkata, Aku ikut menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam pada hari raya Kurban, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih binatang kurban sebelum shalat Ied, hendaknya mengulangi kurbannya, dan barangsiapa belum berkurban hendaknya ia berkurban” [HR Bukhari 5136]

Hadits pertama ini membahas tentang waktu kurban. Waktu Kurban adalah setelah sholat Ied. Adapun yang menyembelih hewan kurbannya sebelum sholat Ied maka tidak dianggap berkurban, namun dinilai sebagai sedekah biasa.

Hadits kedua:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman telah mengabarkan kepada kami Yaqub bin Ibrahim bin Sa’ad dari Ibnu Akhi Ibnu Syihab dari pamannya Ibnu Syihab dari Salim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma dia berkata, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Makanlah daging kurban selama tiga hari”. Sementara Abdullah makan daging tersebut dengan minyak ketika ia kembali dari Mina. [HR. Bukhari 5146]

Hadits kedua ini merupakan petunjuk bahwa memakan daging kurban adalah tiga hari. Dan rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak menyebutkan melebihi waktu tiga hari. Dengan dasar inilah daging kurban tidak boleh dimakan lebih dari tiga hari. Namun ternyata ada hadits lain yang mengatakan boleh.

Hadits ketiga:

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali telah mengabarkan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Malik dari Abdullah bin Abu Bakar dari Abdullah bin Waqid ia berkata, “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa salam melarang makan daging binatang kurban setelah tiga hari”. Abdullah bin Abu Bakar berkata, “kemudian saya memberitahukan hal itu kepada ‘Amrah, lantas ‘Amrah berkata: “Dia benar, saya juga pernah mendengar ‘Aisyah berkata, “Para penduduk kampung mempercepat langkahnya dan bersegera menghadiri Iedul Adha di zaman Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa salam, maka rasululloh shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Simpanlah (daging kurban tersebut) hingga tiga hari, setelah itu sedekahkan yang masih tersisa“. Setelah hal itu berlalu, orang-orang berkata, “Wahai Rasululloh, sesungguhnya orang-orang memanfaatkan dari kurban, mereka mencairkan lemaknya dan darinya itu mereka membuat geriba“. Beliau bersabda, “Ada apa dengan hal itu?” Mereka berkata, “Engkau telah melarang memakan daging kurban setelah lewat tiga hari”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya saya melarang sekelompok orang yang datang terburu-buru, oleh karena itu makan, simpan dan bersedekahlah“. [HR. Bukhari 3646]

Dan hadits yang lain:

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Ashim dari Yazid bin Abu Ubaid dari Salamah bin Al Akwa’ bahwa rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:Siapa dari kalian menyembelih hewan kurban, maka hendaklah ia tidak menyisakan (menyimpan) di rumahnya setelah tiga hari“. Pada tahun berikutnya mereka bertanya, “Wahai rasululloh, apakah kami mesti melakukannya sebagaimana yang kami lakukan tahun lalu?” Beliau menjawab, “Tidak, sesungguhnya tahun lalu orang-orang berada dalam keadaan susah hingga saya menginginkan agar daging hewan kurban ini bisa merata dirasakan oleh mereka. [HR. Muslim 3648]

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim dari Yazid bin Abu Ubaid dari Salamah bin Al Akwa’ bahwa rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:Siapa dari kalian menyembelih hewan kurban, maka hendaklah ia tidak menyisakan (menyimpan) di rumahnya setelah tiga hari“. Pada tahun berikutnya mereka bertanya, “Wahai rasululloh, apakah kami mesti melakukannya sebagaimana yang kami lakukan tahun lalu?” Beliau menjawab, “Makanlah daging kurban tersebut dan bagilah sebagiannya kepada orang lain serta simpanlah sebagian yang lain, sebab tahun lalu orang-orang dalam keadaan kesusahan, oleh karena itu saya bermaksud supaya kalian dapat membantu mereka [HR. Muslim 5143]

Jadi pada hadits Ibnu Umar radhiyalalhu’anhuma tersebut di atas, hukumnya telah dimansukh. Sebab di hadits berikutnya rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa salam memperbolehkan menyimpan dagingnya lebih dari tiga hari. Yang mana otomatis boleh juga memakannya lebih dari tiga hari. Kemudian dijelaskan juga maksud rasululloh shallallahu ‘alaihi wa salam melarangnya adalah karena pada waktu itu banyak orang-orang yang sedang dalam keadaan susah. Oleh karena itulah dagingnya segera dibagikan. Dalam hadits ini diketahui bahwa membagikan daging selama tiga hari itu adalah yang utama apabila ada orang-orang yang sedang dalam keadaan susah di sekitar tempatnya berkurban. Tanpa ada hal ini, maka diperbolehkan untuk menyimpan, dan memakannya lebih dari tiga hari.

Penjelasan dari dalil-dalil ini, yaitu:

1. Daging Kurban disembelih setelah sholat Ied, sedangkan yang disembelih sebelum sholat Ied, maka harus diulang karena dianggap sedekah bukan kurban.

2. Daging Kurban wajib dibagikan pada tiga hari tasyrik, yaitu dibagikan secara merata keseluruhan.

3. Apabila daging kurban telah dibagi merata dan masih ada sisa, maka boleh disimpan lebih dari tiga hari. Sebagaimana hadits dari Abu Ubaid di atas.

Lalu apa hukumnya kurban dengan bentuk kalengan. Jawabnya boleh dengan catatan. Yaitu kurban di daerahnya sudah terpenuhi, maka ia boleh menyimpan dagingnya dibentuk kornet atau kalengan dan dibagikan ke daerah lain yang belum tersentuh. Namun yang tidak diperbolehkan adalah apabila ia lebih mengutamakan berkurban dengan daging kalengan sedangkan kurban di daerahnya sendiri tidak terpenuhi, maka ia berdosa karena hikmah dari kurban ini adalah menampakkan syi’ar Islam, untuk orang-orang di sekitar tempatnya.

Perlu diketahui bahwa membuat daging kalengan tersebut tidaklah satu hari selesai, perlu proses-proses yang memakan waktu lama, sehingga tidak bisa seseorang membeli daging kurban, kemudian dijadikan daging kalengan lalu diberikan ke tempat lain, sementara di tempat dia sendiri masih kekurangan. Ingatlah bahwa daging kurban itu dibagi untuk 3 orang, yaitu sepertiga untuk diri sendiri, sepertiga untuk tetangga baik yang miskin ataupun yang kaya dan sepertiga untuk fakir miskin. Apabila ketiganya ini sudah terpenuhi di tempatnya, maka ia boleh membuat dagingnya untuk kalengan dan sejenisnya.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply