Mengumbar Rahasia Ranjang

Alhamdulillahi. Asyhadu anlaailaahaillallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shali ‘alaa muhammadin wa ‘alaa ‘alihi wa ash-habihi wa man tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin.

Amma ba’du.

Bahasan saya kali ini agak dewasa. Namun karena ini ilmu maka kita harus berpikir positif. Apa yang saya tulis ini saya ambil dari buku “Agar Suami Disayang Istri” yang ditulis oleh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd.

Ranjang menyimpan rahasia. Membiarkannya tersingkap, sama saja meruntuhkan harkat dan martabat diri sendiri.

Ada suami yang tak punya rasa malu. Tabir tebal keburukannya tersingkap di hadapannya. Tanpa malu dan sungkan, Anda mendegarnya membicarakan rahasia ranjangnya, tentang hubungan intim antara dirinya dengan istrinya. Ia merasa bangga, dan menilainya sebagai kesempurnaan kejantanannya. Demi Allah, itu bukanlah simbol kebanggaan maupun kejantanan. Itu adalah kehinaan dan keburukan.

Kebanggaan apa yang diperoleh dengan menyingkap keburukan? Seperti perkataan orang, keburukan disebut dengan keburukan karena tersingkapnya keburukan tersebut membuat orang lain terganggu.

Orang yang berakal tidak mungkin mau membuka keburukannya, berdasarkan fitrah dan nalar. Apalagi syari’at Islam menegaskan larangan tentang hal itu. Bagaimana mungkin seseorang diperbolehkan membeberkan keburukannya, seolah yang mendengarnya melihatnya langsung?

Perbuatan ini, sungguh merusak tirai dari Allah, mencampakkan kerudung malu dan membuka pintu keburukan yang besar.

Allah ‘Azza wa Jalla bersifat Hayyi Sattir (Maha Malu lagi Maha Menutupi kesalahan hamba-Nya) yang mencintai tirai dan rasa malu. Ranjang itu memiliki rahasia-rahasia yang harus dibentengi. Salah satu hak suami-istri atas pasangannya, adalah masing-masing tidak membicarakan rahasia-rahasia ranjang yang terjadi di antara mereka berdua. Melakukannya, tidak seperti mengubah diri mereka menjadi setan jantan dan setan betina yang bertemu di suatu jalan, lalu mereka bersetubuh di depan khalayak ramai.

Perumpamaan ini disebutkan dalam sebuah hadits Nabi. Asma’ binti Yazid radhiyallahu’anhu tengah berada di sisi Rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam. Kaum pria dan wanita duduk di sekitar beliau. Beliau Shallallahu’alaihi wa salam bersabda,

“Mungkin seorang pria mengatakan apa yang dilakukannya bersama istrinya, dan mungkin seorang wanita mengatakan apa yang dilakukannya bersama suaminya”.

Mereka semua diam, tidak menjawab.

Maka, aku (Asma’ bin Yazid) menjawab, “Ya, demi Allah, wahai Rasulullah! Kaum wanita melakukannya. Kaum laki-laki juga melakukannya.” Beliau bersabda, “Jangan lakukan hal itu! Sebab perumpamaan hal itu seperti setan jantan bertemu setan betina di suatu jalan, lalu ia menyetubuhinya sedang orang-orang melihatnya” [HR. Ahmad 6/456; Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 24/162. Al Albani mengatakan dalam Adab Az-Zafaf hlm 144, usai menyebutkan beberapa penguat hadits ini. “Derajat hadits ini dengan berbagai penguatnya ini adalah shahih atau sekurang-kurangnya hasan”]

Hadits ini melarang dengan tegas membuka rahasia ranjang. Membuka dan menyiarkan hal ini seolah-olah adegan persetubuhan tersebut dipertontonkan di sebuah ruas jalan.

Godaan setan yang tersaji di jalan umum membuat jiwa-jiwa pendosa menginginkannya. Mereka tak segan merogoh kocek banyak untuk meraihnya. Tindakan ini juga sejenis bentuk membeberkan keburukan, memotivasi orang-orang sesat, dan mencampakkan tirai masa malu.

Ada juga mudharat lain terhadap istri. Istri memiliki perasaan malu lebih daripada suaminya. Sikap suami menyebarkan rahasianya membuat perasaannya tertekan ketika berhubungan intim dengan suaminya. Maksudnya agar suaminya tak punya bahan untuk disebarkan kepada orang lain.

Inilah salah satu hikmah, mengapa Islam mengajarkan agar suami menjadi pakaian dan tirai penutup bagi istrinya. Demikian pula sebaliknya. Dengan begitu, masing-masing dapat melakukannya secara alami, tanpa merasa khawatir atau malu. Dengan begitu, ketentraman dan kasih sayang dapat direguk bersama. Lain halnya, jika salah satu pasangan merasa khawatir rahasianya di ranjang akan diketahui oleh orang lain.

Orang yang menybarkan rahasia hubungan intim bersama pasangannya diancam keras. Nabi menggolongkannya sebagai manusia terburuk. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

“Manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat ialah orang yang mendatangi (menyetubuhi) istrinya, atau istri mendatangi suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya (atau sebaliknya)” [HR. Muslim no. 1437]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menegaskan, diharamkannya suami menyebarkan apa yang terjadi antara dia dengan istrinya, berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut persetubuhan, membeberkannya secara terperinci, dan apapun yang terjadi bersama istrinya berupa ucapan, perbuatan dan sejenisnya.

Sekedar menyebut jima’ tanpa ada manfaat dan keperluannya, maka hukumnya adalah makruh. Sebab, ini menyalahi kehormatan pribadi (muru’ah). Nabi shallallahu’alaihi wa salam bersabda,

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkta yang baik atau lebih baik diam” [HR. Al Bukhari No. 6018. Muslim No. 47]

Namun jika diperlukan untuk menyebut kata jima’, misalnya karena sang istri suka menghindar, atau ia ditimpa lemah syahwat, maka tidak makruh baginya menyebut kata tersebut.

Terdapat keringanan untuk membeberkan rahasia ranjang, jika seseorang perlu mendapatkan fatwa atau pengobatan. Ia boleh menceritakan tentang masalah ranjang, hanya sesuai dengan keperluan.

[Min Khta’i Al Azwaj judul terjemahan Agar Suami Disayang Istri oleh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd]

4 thoughts on “Mengumbar Rahasia Ranjang

Leave a Reply